Mentadaburi Rangkaian Ibadah Haji



Di bawah langit Arafah yang panas membara, jutaan hati dari seluruh penjuru dunia meleleh dalam doa. Ada ibu yang menangis mengingat anaknya, ada kakek yang berjalan tertatih setelah bertahun menabung, ada pemuda yang baru pertama kali merasakan betapa kecil dirinya di hadapan Allah. Semua setara, tanpa mahkota, tanpa jabatan. Semua hanya manusia biasa yang haus ampunan.

Mulai malam ini, jamaah haji mulai beranjak ke Muzdalifah. Setelah seharian penuh khusyuk wukuf di Arafah pada 9 Zulhijjah, mereka bergerak meninggalkan padang suci saat matahari terbenam. Malam ini mereka mabit di Muzdalifah, bermalam di bawah langit terbuka sambil mengumpulkan batu kerikil untuk lempar jumroh. Mereka bak para tentara yang sedang mempersiapkan perbekalannya. Dengan hanya berkain ihram bagi lelaki, dan pakaian yang menutup aurat secara syar'i untuk wanita, busana-busana sederhana, beralaskan tikar atau matras seukuran badan, mereka berbaring di atas tanah, beratap langit, dan mungkin hembusan angin Padang Muzdalifah.

Rangkaian suci Ibadah Haji sebenarnya dimulai sejak 8 Zulhijjah, hari Tarwiyah. Ibadah ini sunnah, sehingga karena mobilisasi yang sulit, tak semua jamaah haji Indonesia melakukannya. Pada saat ibadah Tarwiyah, Jamaah berihram dari Makkah menuju Mina, bermalam di sana sambil memperbanyak doa dan dzikir, mempersiapkan jiwa untuk hari Arafah. Baru pagi di 9 Zulhijah, setelah Ibadah Tarwiyah, mereka akan menuju Arafah untuk wukuf, dan bermalam di Muzdalifah.

Setelah bermalam di Muzdalifah, keesokan paginya, 10 Zulhijjah, jamaah menuju ke Mina untuk melontar jumrah aqabah. Jemaah biasanya tinggal di Mina selama 3–4 hari (10–13 Zulhijjah). Ada dua pilihan yang bisa diambil jamaah, yaitu nafar awal atau nafar tsani. Nafar awal maksudnya adalah pulang lebih cepat. Mereka ada di Mina tanggal 10, 11 dan 12 untuk melontar jumrah. Sedangkan nafar tsani berarti pulang lebih lambat, di Mina tanggal 10, 11, 12, dan 13.

Oya, jangan salah, lempar jumroh ada 2 jenis, ya Sobat. Yaitu lempar jumroh di hari nahar (10 zulhijah), dan di hari tasyrik (11, 12, 13). Pada hari nahar, lempar jumrohnya hanya satu lokasi, Jemaah hanya melontar 1 kali di satu lokasi, yaitu Jumrah Aqabah saja dengan 7 kerikil. Baru pada hari tasyrik, lempar jumroh dilakukan di tiga tiang yaitu Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah, masing-masing 7 kerikil, jadi jumlahnya 21 kerikil.

Jadi, kerikil yang dilemparkan oleh jamaah yang mengambil Nafar Awal adalah 7 + 21 + 21 = 49. Sedangkan yang Nafar Tsani adalah 7 + 21 + 21 + 21 = 70. Cukup bisa dipahami, ya?

Setelah menyempurnakan ibadah dengan penyembelihan kurban, bercukur atau bertahallul, puncaknya jamaah melakukan adalah Tawaf Ifadah di Ka’bah: thawaf tujuh kali, menyentuh Hajar Aswad, dan sa’i antara Safa-Marwah. Sebagian jamaah haji ada yang melakukan Thawaf Ifadah dan Sa'i pada hari Nahar, yakni setelah lempar jumroh Aqabah. Tapi ini berat sekali dilakukannya. Maka jamaah biasanya melakukan setelah kembali dari Mina menuju Mekah. Tapi ingat, Thawaf Ifadah dan Sa'i adalah rukun haji yang tidak boleh terlewatkan.

Demikian gambaran rangkaian ibadah haji. Meskipun jamaah haji reguler di Indonesia berangkat ke Tanah Suci selama 40 hari, sebenarnya rangkaian ibadah hajinya hanya sekitar sepekan saja. Di luar itu, mereka memperbanyak ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Semoga Allah memberi kita kesempatan menunaikan haji yang mabrur, meski antreannya panjang sekali. Sabar dan ikhlaslah. Jangan tergoda iming-iming biro tak resmi yang menjanjikan cepat. Haji yang hakiki adalah yang penuh keikhlasan dan sesuai sunnah.

Salam,
Afifah Afra
(Jamaah Haji Reguler Tahun 2018)

Posting Komentar untuk "Mentadaburi Rangkaian Ibadah Haji"

banner