Gelombang Panas Menerpa Eropa, Suhu Capai 45°C, Kok Bisa?


Saat ini kita sedang dikejutkan dengan berita yang beredar di berbagai media tentang gelombang panas yang ekstrem di benua Eropa. Sebagai orang yang tinggal di negara tropis, saat panas sedang sangat menyengat, kita merindukan suasana sejuk Eropa. Kesejukan benua biru ini sudah menjadi kodratnya, karena memang berada di iklim dingin.

Akan tetapi, benua yang biasanya sejuk kini suhunya setara dengan negara gurun pasir. Benar-benar anomali cuaca yang mengerikan! Saat ini Eropa sedang dilanda gelombang panas ekstrem. Anomali ini dimulai pada pertengahan Juni 2026 dan berlanjut hingga awal Juli. Puncaknya terjadi akhir Juni di Eropa Barat, dengan Prancis mencatat suhu hingga 44°C, Spanyol, serta Inggris. Suhu kemudian bergeser ke Eropa Tengah dan Timur (Jerman, Polandia, Ceko, Hungaria). Beberapa wilayah di Spanyol dilaporkan mencapai lebih dari 45°C. 

Foto-foto dan video banyak beredar di media sosial. Kolam di Menara Eiffel, misalnya, dikabarkan menjadi tempat berendam bagi banyak orang yang ingin mencari kesejukan. Aspal meleleh, karet-karet rusak, orang-orang memakai payung, dan AC diborong dari etalase toko. Bisa jadi, karena tidak mengantisipasi cuaca ekstrem seperti ini, infrastruktur di Eropa memang tidak dipersiapkan untuk tahan terhadap cuaca panas.

Uniknya, saat Eropa sedang mengeluhkan cuaca panas, di tempat saya menulis, Kota Solo, yang merupakan tempat tinggal saya, malah suasana terasa sejuk. Saat saya mengetik tulisan ini, 2 Juli 2026, suhu hanya 26°C, padahal sudah jam 9.20 pagi. Apa ya sebabnya? Sejak beberapa hari ini, Kota Solo memang terasa lebih sejuk dari biasanya. 

Lantas, mengapa anomali di Eropa ini bisa terjadi? Penyebab utamanya adalah heat dome atau sistem tekanan tinggi yang memerangkap udara panas dari Gurun Sahara. Kok Sahara? Meski jaraknya ratusan hingga ribuan kilometer, angin selatan yang kuat (terutama saat heat dome) mampu mengangkut udara panas dan debu Sahara ke Eropa dalam 1–3 hari. Itulah sebabnya suhu di Prancis atau Spanyol bisa terasa seperti di gurun. Apalagi, ada bagian dari Eropa yang sangat dekat dengan Sahara, yakni via Selat Gibraltar. Jadi, Gurun Sahara yang berada di Afrika Utara ini aslinya memang terasa “sangat dekat” bagi Eropa.

Jadi ingat ya, saat Thariq bin Ziyad menyeberang ke Eropa dalam rangka misi pembebasan Eropa dari cengkeraman raja zalim yang berkuasa saat itu. Pada tahun 711, Thariq bin Ziyad menyeberangi selat yang kini bernama Selat Gibraltar. Tahun 711 bertepatan dengan tahun 92 H. Meskipun Thariq adalah panglima resmi Pasukan Umayyah yang berpusat di Damaskus, tentara yang dipimpin saat itu mayoritas berasal dari bangsa Berber, Maroko. Mereka melakukan penaklukan wilayah Semenanjung Iberia dengan melewati selat yang jaraknya hanya sekitar 14 kilometer tersebut. Kita tahu bahwa salah satu wilayah Maroko adalah Gurun Sahara, khususnya Sahara Barat.

Kembali ke topik utama ya... Jadi, kondisi panas yang terjadi di Gurun Sahara saat ini 'diekspor' oleh angin ke Eropa. Ya, meski katanya 'angin tak punya KTP' dan tentunya nggak punya paspor, angin bisa bepergian ke mana-mana seenaknya.

Kondisi ini diperburuk oleh perubahan iklim akibat emisi manusia. Ini yang disebut dengan global warming, alias pemanasan global. Isu yang selama 3 dekade ini mulai terlihat akibatnya. Kondisi ini menyebabkan kejadian anomali-anomali semacam ini menjadi jauh lebih mungkin terjadi. 

Pada kejadian ini, saat memasuki Juli, terjadi pendinginan sementara (1–4 Juli) di Jerman, Polandia, dan sebagian Eropa Tengah berkat masuknya udara dari Samudra Atlantik. Namun, risiko gelombang panas kedua diperkirakan akan mengintai mulai 3 Juli di Portugal dan Spanyol, kemudian berpotensi menyebar ke Prancis selatan. 

Dampak gelombang panas ini sangat serius, Guys! Saat ini dilaporkan lebih dari 1.300 kematian akibat kasus ini (data WHO). Selain kematian, hal ini juga berakibat pada meningkatnya risiko kesehatan bagi populasi lansia dan anak-anak. Bagaimanapun, orang Eropa tidak terbiasa menghadapi udara sepanas itu. Risiko lain juga muncul seperti peningkatan kebakaran hutan, gangguan pasokan listrik, serta terganggunya aktivitas sehari-hari masyarakat. Mari kita layangkan empati kita sejenak kepada mereka yang sedang merasakan dampak anomali cuaca ini.

Semoga cuaca membaik, dan semua bisa menikmati hidup dengan nyaman di bumi kita tercinta ini.

Posting Komentar untuk "Gelombang Panas Menerpa Eropa, Suhu Capai 45°C, Kok Bisa?"

banner