Menulis Cerpen, Yuk! (3): Membuat Cerpen yang Menarik



Setiap kali membaca cerpen yang menarik, saya merasa iri. Kok bisa ya, dia menulis seperti itu? Lantas saya akan bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya apa-apa saya sih yang membuat cerpen kita terlihat unik, menarik dan gereget? Bagaimana dengan Sobat sekalian, apakah merasakan hal yang sama dengan saya?

Menulis cerpen, sebenarnya bukan hal yang asing buat saya. Cerpen pertama kali dipublikasikan dengan cara dibacakan di RRI Purwokerto sekitar tahun 1993, saat saya masih SMP. Cerpen kedua, tembus di Anita Cemerlang, majalah remaja yang sangat beken zaman saya remaja, pada tahun 1994, saat saya kelas 1 SMA. Wah, girangnya bukan alang kepalang. Apalagi, honornya cukup bikin melongo. Saat itu, saya mendapat wesel dengan angka tertera di sana: Rp 70.000! Bayangkan, tahun 1994, lho. Kalau dikonversi dengan tahun sekarang, kira-kira berapa ya?

Sejak saat itu, saya aktif menulis, dan cerpen memang salah satu genre yang saya tekuni hingga sekarang, meski saya juga menulis genre lain baik fiksi maupun non fiksi.

Selain itu, saya juga punya banyak teman cerpenis, beberapa di antaranya, memiliki prestasi kepenulisan yang jauh di atas saya. Berdasarkan pengalaman saya menulis cerpen dan juga sharing dengan teman-teman, saya mencoba merumuskan beberapa resep berikut ini.

Konsistensi

Usahakan agar cerpen anda konsisten dari awal sampai akhir. Fokuslah pada plot yang ingin disampaikan. Dalam bagian pertama tulisan saya, Menulis Cerpen, Yuk! (1): Apa sih Cerpen Itu?, saya sudah menyampaikan, bahwa cerpen harus punya plot dan efek tunggal. Agar pesan yang kita sampaikan bisa mengena, cobalah pilih kalimat-kalimat efesien namun efektif membawakan jalan cerita.

Salah satu kelemahan cerpenis pemula adalah keinginan yang meledak-ledak pada diri mereka untuk menceritakan segala sesuatu yang ada di benak mereka secara menggebu-gebu. Akhirnya, mereka justru terlalu banyak melakukan pelanturan-pelanturan yang sebenarnya tidak diperlukan untuk membangun plot cerpen tersebut.

Kalimat yang Multifungsi

Untuk membuat sebuah cerpen yang menarik, oleh karena ruang cerpen yang sempit, seperti yang telah saya ungkapkan di atas, kita wajib menyeleksi kata-kata yang akan kita ambil. Jika memungkinkan, rangkailah kata-kata sedemikian rupa sehingga kalimat yang dihasilkan, memiliki multifungsi. 

Lihatlah kalimat ini. "Dengan gaun malam klasiknya, gadis urakan yang biasanya nge-punk itu terlihat begitu luwes dan menonjol di tengah kerumunan para sesepuh." Apa saja fungsi yang bisa diambil dari kalimat itu?

1. Kita tahu bahwa peristiwa itu terjadi di waktu malam
2. Kita tahu bahwa peristiwa itu terjadi pada sebuah pesta resmi yang dihadiri orang-orang tua
3. Kita tahu karakter orang itu urakan, nge-punk, namun bisa luwes menyesuaikan diri

Dari satu kalimat, kita bisa mendapatkan beberapa fungsi sekaligus.

Judul yang Membuat Penasaran!

Judul adalah salah satu penarik sebuah cerpen. Judul adalah kepala dari sebuah karangan. Performa dari isi cerpen, pertama kali dilihat dari judulnya. Maka, buatlah judul yang singkat, padat, namun unik, mengena dan membikin penasaran.

Coba amati judul salah satu cerpenis senior, Seno Gumira Ajidarma: Sepotong Senja Untuk Pacarku. Judulnya puitis, indah, tapi menggelitik. Bagaimana mungkin senja bisa dipotong?

‘Bang!’ Sebagai Pembuka

Awalilah cerpen anda dengan ledakan (bang), sehingga begitu melihat sekilas, pembaca akan tertarik. Cerpen itu mirip sebuah presentasi, dimana audiens harus terlebih dahulu diikat perhatiannya sehingga akan ‘tersihir’ dan mau menurut ke arah mana ia akan ‘dibawa’ oleh presenter.

Lagi-lagi saya mencontohkan cerpen Seno Gumira Aji Darma: Saksi Mata. Inilah kalimat-kalimat pembuka cerpen tersebut.

Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-tatih di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba  udara.

Bagaimana kesan Sobat sekalian membaca kalimat pembuka tersebut?

Diksi

Pada hampir semua karangan, diksi merupakan salah satu kunci kekuatan dari karangan tersebut. Selain membentuk sebuah kalimat, diksi sebisa mungkin juga diusahakan untuk menciptakan efek tertentu bagi pembaca, seperti kesan mendalam, perasaan empati, emosional dan sebagainya. Semakin banyak diksi yang dikuasai seorang penulis, cerpen akan semakin bagus.

Ending

Ending, jika dimungkinkan harus memberikan kejutan bagi pembaca. Namun jangan mengada-ada. Kejutan tersebut, semestinya sudah dipersiapkan atau disiratkan di awalan cerita, namun pembaca tidak tahu bahwa itulah ending dari cerita tersebut. Jadi, ending bukan sesuatu yang ditempelkan begitu saja. Salah satu ending yang digemari oleh pembaca, adalah yang nge-twist. Salah satu cerpen dengan twist ending, bisa kalian baca di cerpen saya: Seorang Lelaki dan Selingkuh.

Baik, sementara itu dulu ya yang saya paparkan. Ditunggu terus tips-tips kepenulisan lainnya di blog ini.

Salam!








2 komentar untuk "Menulis Cerpen, Yuk! (3): Membuat Cerpen yang Menarik"

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!