Widget HTML Atas

Kenangan Bersama Munas, Dari Yogya hingga Munas Daring #2

Formasi FLP di Munas IV Bandung


Pada Munas FLP ke-4 di Bandung, kadar ketegangan saya melebihi Munas-Munas sebelumnya. Jika di ketiga Munas yang lalu posisi saya adalah delegasi wilayah, pada Munas Bandung, saya adalah bagian dari BPP. Ya, pasca terpilih di Munas Bali, Mbak Sinta Yudisia meminta kesediaan saya mendampingi beliau menjadi sekjen. Tak ada alasan untuk menolak. Pertama, saya sudah tidak punya amanah di wilayah. Kedua, dengan menjadi Sekjen, saya semakin memiliki kesempatan mendalam untuk menekuni kehidupan berliterasi dalam bingkai Forum Lingkar Pena. Itu jalan saya mewujudkan visi dan misi pribadi, gitu singkat cerita!


Maka, Munas di Bandung ini saya pun tegang. Tegang atas dua hal, karena saya harus membantu menyusun LPJ Mbak Sinta, di mana peran saya tentunya dominan. Lalu, karena santer permintaan wilayah dan cabang agar saya maju sebagai calon ketua umum FLP periode 2017-2021.

Pernah kan ya, di blog ini saya curhat. Bahwa aslinya saya ini tipe manusia di belakang layar, haha. Saya tidak memiliki naluri untuk bisa spontan menjadi orang-orang yang disorot kamera. Saya bukan tipe-tipe manusia di atas panggung yang bisa menikmati keriuhan dan kemeriahan dengan nyaman. Kalau diibaratkan kru film, saya ini produser, sutradara atau penulis skenario. Bukan artis. Kalau ibarat pemain bola pun, saya tidak cocok menjadi penyerang, tetapi lebih ke playmaker atau gelandang. Maka, menjadi ketua umum adalah hal yang bagi saya berat. Karena berarti saya harus maju ke depan, menjadi bagian utama dari perwajahan FLP selama 4 tahun ke depan.

Menjelang Munas Bandung, saya menderita sakit magh. Hampir seminggu lambung bergejolak, disusul dengan diare. Kata suami, saya stress, haha. Bahkan, saat keberangkatan menuju Bandung, di dalam kereta api yang membawa saya dari Solo ke Bandung, saya masih merasakan sakit di lambung. Mungkin ada faktor pendukung lain, sih. Saat itu, anak bungsu saya, Fatihan, sedang dalam proses penyapihan. Dan sejak kelahiran Fatihan pada Desember 2015, memang itu baru pertama kali saya melakukan perjalanan keluar kota dengan meninggalkan bayi Fatihan. Fakta ini membuat saya semakin merasa tidak nyaman dalam perjalanan menuju Munas.

Alhamdulillah, di Munas Bandung, LPJ Mbak Sinta diterima. Sebenarnya, tidak pernah ada sih, kisah LPJ ditolak hehe. Persaudaraan di FLP ini sangat kuat. Sikap kritis selalu dibingkai dengan persahabatan yang indah. Jadi, meskipun ada catatan di sana-sini, selalu saja berakhir happy ending.
Tak disangka, mayoritas delegasi mencalonkan saya sebagai Ketua Umum. Dan saat voting, saya mendapatkan suara dominan, lebih dari 50%. Saya begitu merinding, melihat kepercayaan mereka yang begitu besar kepada saya. Dalam hati saya sibuk bertanya, mereka memilih saya karena apa? 

Menerima estafet kepemimpinan dari Mbak Sinta Yudisia

Apakah benar yakin saya bisa memimpin FLP? Atau karena saya relatif lebih populer? Kalau populer, wajarlah, saya bergabung dengan FLP sejak tahun 2000, dan tak pernah jeda terus berada di organisasi ini. Saya juga rajin menulis sejak bergabung di FLP. Tetapi, jika mereka memilih saya karena popularitas, itu sebenarnya yang saya takutkan. Banyak orang hebat tak terpilih karena kurang populer. Sebaliknya, banyak orang tak berkualitas, tetapi dipilih karena banyak dikenal. 

Ini problem banget ya, buat bangsa ini! Lihatlah, saat Pemilu, banyak artis-artis yang dikenal luas karena wajahnya sering nampang di sinema, maju di Pemilu. Bahkan, ada satu parpol yang sepertinya menyengaja mengangkut para selebritas menjadi calon-calon anggota legislatif. Meski kaderisasi partai kurang optimal, tetap saja dapat kursi banyak, gara-gara jurus itu. 

Lalu, setelah saya terpilih sebagai Ketua Umum, apa yang harus saya lakukan? Apa yang perlu saya kerjakan? Beragam pikiran berkecamuk di benak. Di perjalanan pulang menuju Solo, menggunakan kereta api, saya tak kunjung bisa memejamkan mata, meskipun sejatinya saya hanya tidur tak sampai 10 jam selama tiga hari di Bandung. Haha...

Sebabnya tentu bisa diduga, kan? Ya, karena mengikuti sidang-sidang superheroik itu. Sebenarnya, di Munas IV, sebagaimana munas berikutnya, saya masuk di Komisi C, komisi yang membahas rekomendasi bisnis, rumah cahaya, kehumasan dan sebagainya. Entah, mungkin karena latar belakang saya adalah wirausaha, maka saya didapuk masuk komisi tersebut. Komisi C tidak selama komisi A (AD/ART) dan komisi B (Sistem Kaderisasi), tetapi ya tetap lama ... saya ingat, di malam terakhir di Bandung, saya masuk kamar untuk istirahat sekitar jam 3 pagi.

Ada satu hal yang sangat saya yakini, bahwa kesuksesan menjadi ketua tim, berawal dari bagaimana memilih anggota tim. Alhamdulillah, kuliah S2 manajemen membuat saya memiliki satu bekal keilmuan, bahwa manajemen SDM adalah kunci sukses mengelola organisasi. Terbayang di benak saya, orang-orang tepat dan hebat yang akan mengisi pos-pos inti di jajaran kepengurusan yang akan saya bentuk. Beberapa dari mereka sudah bersedia memback-up saya, bahkan ketika saya baru hendak maju sebagai calon Ketum. Mereka meminta saya maju, dan sebagai konsekuensi, bersedia totalitas membantu saya jika terpilih menjadi Ketua. Mereka orang-orang hebat. Ada doktor, master, dan juga pegiat-pegiat literasi tangguh, yang telah teruji di lapangan.

Mengingat hal itu, saya menjadi lega. Mungkin dalam masalah kecerdasan intelektual, nilai saya paling banter B saja. Dan memang akhirnya saya "hanya" terjebak di dunia usaha dan swasta. Kuliah lagi pun di kampus nomor dua. Karena memang tak punya cukup waktu untuk belajar berjuang menembus kampus nomor satu. Saya teringat dengan guyonan seorang guru besar, bahwa orang-orang dengan nilai A akan jadi dosen dan profesor, nilai B akan jadi pengusaha, dan nilai C akan jadi politisi yang mengatur-atur si pemilik nilai A dan B, wkk....

* * *

Tetapi, akhirnya 4 tahun berlalu. Masa kepengurusan saya pun berakhir. Jika parameter kesuksesan adalah terlaksananya program-program, saya dan tim sudah berusaha merealisasikan. Tidak tercapai 100%, tetapi LPJ setebal 158 halaman memperlihatkan capaian yang lumayan. Ibarat mobil, sudah melaju kencang, tetapi jujur, memang belum ‘gaspol’ alias tancap gas full sehingga melaju dengan kecepatan maksimal.

Eh, nulis tentang gaspol, saya jadi ingat, semalam mimpi naik mobil bersama Mbak Umi Kulsum (anggota Dewan Pertimbangan FLP Terpilih di Munas V). Awalnya, Mbak Umi yang menyopir mobil. Di tengah jalan, Mbak Umi kecapekan dan menyerahkan setir ke saya. Wah, kaget juga. Meski saya sudah berlatih menyetir mobil, saya belum lancar nyopir, haha. Saya pun, dalam mimpi itu, bertanya-tanya lagi, mana gas, mana rem, mana kopling. Alhamdulillah, meski tersendal-sendal, mobil sampai juga saya sopiri sampai akhir tujuan. Bangun tidur, saya senyum-senyum, pertanda apa ini?

Back to Munas IV. Ya … begitu deh, akhirnya saya mengakhiri masa kepengurusan saya yang merupakan hasil Munas IV di Bandung dengan lega. LPJ diterima. Ketemu saudara-saudara dari seluruh penjuru tanah air, senangnya luar biasa. Ada delegasi dari Aceh, dari Maluku, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB … kalau Jawa sih nggak tanya.

Saat harus memberi sambutan dan pidato perdana sebagai ketua umum terpilih di Munas IV Bandung, saya memuji kehadiran 300-an delegasi itu. “Panitia hanya mengeluarkan sekitar Rp 300 juta rupiah untuk biaya akomodasi peserta, tetapi saya tahu, biaya Munas ini mencapai hampir semilyar. Dan itu dipenuhi dari kantong Teman-Teman sendiri. Kalian harus membeli tiket pesawat, kereta api, bus, kapal dan moda transportasi dengan biaya mandiri. Ini pengorbanan luar biasa. Memang, FLP terus eksis karena kita menjadikan dompet kita sebagai brankas kita. Sunduquna juyyubuna. Semoga Allah merahmati kita semua.”
Satu hal yang banyak dikutip teman-teman, adalah kalimat saya ini, “Untuk bisa menjadi besar, pengurus FLP harus mempraktikkan tiga hal: totalitas, kohesivitas, dan soliditas.”
Jujur, kalimat ini sering menjadi pengingat untuk saya, meski terucap dari diri sendiri. Saya takut sekalia dengan firman Allah dalam surat Ash-Shaff, “Kaburo maqtan ‘indallahi antaquulu maalaa taf’aluun, amat benci kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”

* * *

Sama dengan ketika menjelang Munas ke-4, menjelang Munas ke-5, asam lambung saya naik. Rasanya crowded sekali. Apalagi, pelaksanaan Munas berbarengan dengan Ujian Tengah Semester. Ceritanya, menjelang akhir kepengurusan, saya memutuskan untuk mendaftar kuliah di Magister Sains Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kuliah lagi di jurusan Psikologi sudah menjadi mimpi saya sejak lama. Baru terealisir kali ini. Jujur, pemicunya justru karena Pandemi. Suami saya suatu saat guyon-guyon, "Mi, kalau mau kuliah lagi, ini saatnya, mumpung masih daring!"

Benar juga sih, ya... akhirnya, saya nekad mendaftar. Berbekal surat rekomendasi dari Kang Irfan Hidayatullah dan Ganjar Widhiyoga, saya pun diterima.

Tahu sama tahulah, kuliah di S2 itu tugas-tugasnya pasti seabrek-abrek. Saya pernah menyelesaikan Magister Manajemen di Universitas Slamet Riyadi tahun 2016. Tugasnya juga banyak, tetapi tidak sebanyak saat ini, haha.

Fisik dan psikis saya memang ngedrop sekali saat menjelang Munas 5, bahkan sesudah Munas berakhir pun, rasanya masih belum bisa 100%. Selain faktor kuliah dan bersiapan Munas, bisa jadi juga karena faktor efek long Covid 19 yang saya alami, mungkin ya? Pasca terkena Covid19 bulan Austus kemarin, hingga sekarang saya belum bisa 100% bugar dan fit.

Tentang Detil Munas ke-V, nanti saya kisahkan khusus di bagian terakhir tulisan ini, ya….

BERSAMBUNG

Tidak ada komentar untuk "Kenangan Bersama Munas, Dari Yogya hingga Munas Daring #2"