Benarkah Rohingya Akan Jadi Israel Untuk Indonesia?

Aksi mahasiswa membawa paksa pengungsi Rohingya ke kantor Kemenkumham (foto: Kompas)

Berita seputar Pengungsi Rohingya semakin gencar diwartakan dan didesas-desuskan di berbagai media, baik media sosial maupun media mainstream. Di media sosial X (Twitter), topik Rohingya kembali menjadi trending topic setelah video pengusiran para pengungsi di Aceh oleh sebagian oknum mahasiswa Aceh beredar dan menjadi viral. Dilansir dari KOMPAS, sebanyak 137 pengungsi Rohingya yang sedang ditampung di Balai Meuseraya Aceh (BMA), Kota Banda Aceh, diusir sejumlah mahasiswa pada Rabu (27/12/2023) kemarin. Mereka dipaksa naik truk dari BMA dan diangkut menuju kantor Kemenkumham Aceh. Dalam video tersebut, tampak sekelompok anak muda berjaket almamater berwarna hijau mendatangi para pengungsi, lalu menendangi para pengungsi yang kebanyakan perempuan dan anak-anak, melempari dengan botol air mineral dan berbagai benda lain, serta melakukan kekerasan verbal dengan teriakan-teriakan kasar. Beberapa pengungsi tampak menitikkan air mata, sementara anak-anak menangis meraung-raung karena ketakutan.

Saya menghela napas panjang, sedih, patah hati. Bisa-bisanya mereka--para mahasiswa, tega bersikap sekeras itu kepada entitas yang tidak menyerang mereka, tidak menyakiti mereka, dan tidak melakukan kriminalitas. Ada beberapa tindakan yang menurut mereka mengganggu warga, seperti mogok makan, membuang makanan, buang air besar di empang masyarakat, mengatakan bahwa makanan yang diterima tidak membuat mereka kenyang dan sebagaianya ... it's okay, saya memaklumi jika warga merasa kesal. Tetapi mengusir mereka dengan sadis, menimbulkan trauma yang mendalam, memunculkan rasa takut, tidakkah itu sangat berlebihan? Lagipula, apa wewenang para mahasiswa melakukan persekusi terhadap para pengungsi? Mereka tidak memiliki otoritas apapun. Keberadaan para pengungsi itu dilindungi secara hukum. Di Indonesia ada regulasi tentang pengungsi, yaitu di Perpres no 125 tahun 2016.

Orang Rohingya bisa dikatakan merupakan etnis yang sangat merana hidupnya. Mereka dipersekusi oleh pemerintahnya sendiri selama beberapa dekade. Dari 1960-an hingga sekarang. Saat Junta Militer berkuasa, mereka dicoret sebagai warga negara Myanmar. Mereka dianggap tidak sah menduduki tanah Arakan, karena dianggap sebagai bagian dari kolonialis Inggris. Anggapan tersebut tentu tak berdasarkan fakta, tetapi hanya klaim sepihak dari Junta Militer. Sebab, etnis Rohingya sudah ada di Rakhine sejak abad 7, dan mendirikan kerajaan Arakan yang menjadi kerajaan Islam pada sekitar abad ke-15 hingga abad 18. (Sumber klik sini). Kerajaan Arakan, di bawah kekuasaan Mrauk U, bahkan mengalami kejayaan dan sempat mendominasi perdagangan di daerah Burma. Setelah Inggris berkuasa, pada kurun waktu 1824-1948, memang ada banyak masyarakat India dan Bangladesh datang ke Burma dan tinggal di Arakan. Namun itu tidak menutup fakta bahwa sudah ada etnis Rohingya sejak sebelum Inggris di Arakan. Memang etnis Rohingya serumpun dengan Bangladesh, karena memang letaknya berdekatan. Mirip dengan orang Indonesia dengan Malaysia.

Ketika Myanmar atau dahulu bernama Burma di bawah pemerintahan U Nu, keberadaan etnis Rohingya diakui. Bahkan saat itu, seorang etnis Rohingya, Sultan Mahmood, diangkat menjadi menteri kesehatan Burma (sumber klik sini). Ini menunjukkan bahwa etnis Rohingya sempat diakui dan hidup bersama dengan damai di Burma. Keadaan berubah setelah Junta Militer mengambil alih kekuasaan.

Sejak tahun 1970-an, karena terus menerus menerima persekusi, mereka pun mulai meninggalkan negaranya. Puncaknya 2017, saat itu 13.759 etnis Rohingya dibantai oleh Junta Militer Myanmar (sumber klik sini). Mereka diteror, diusir, dirampok, dianiaya, ditindas, dan perempuannya diperkosa. Kampung-kampung dan rumah mereka dibakar. Jutaan dari mereka dipaksa keluar dari Myanmar. Lalu dalam kondisi tanpa kewarganegaraan (stateless) mereka mengungsi ke Bangladesh, Malaysia, Arab Saudi dan seluruh dunia. Inilah persebaran para pengungsi Rohingya di seluruh dunia sejak 1970-an hingga 2017.



Saat ini, persebaran pengungsi tentu sudah berubah. Berdasarkan info dari BBC, di Bangladesh saat ini sudah sekitar 900an ribu hingga 1 juta pengungsi. Di Indonesia, saat ini ada hampir 2000 pengungsi. Jadi, dibandingkan negara-negara lain, sebenarnya jumlah pengungsi Rohingya sangatlah sedikit. 

Dari jutaan etnis Rohingya, hanya sangat sedikit yang beruntung mendapatkan pekerjaan di berbagai negara yang memberikan suaka tersebut. Jutaan yang lain hidup tanpa harapan. Tak punya masa depan. Di kamp-kamp pengungsian mereka hidup dalam kondisi sangat menyedihkan. Sanitasi buruk, berjejal-jejalan, tanpa pendidikan, tanpa bisa bekerja, dan sangat bergantung dari UNHCR. Dunia tidak boleh buta terhadap kenyataan ini. Mereka ada 2 juta. Etnis yang sangat perlu ditolong agar tidak musnah. 

Jangan ada kebencian untuk mereka. Jika ada perilaku yang tidak beradab, itu tak semua. Masyarakat normal yang tidak mengalami persekusi juga banyak yang kelakuannya tak beradab. Apalagi entitas yang batas antara hidup dan mati sangat tipis seperti Rohingya. Mereka sedang dalam kondisi tidak beruntung. Mari pikirkan bersama solusi untuk mereka.

Kembalikan Mereka Ke Bangladesh!
Kalimat ini sangat sering saya baca, sehingga saya berpersepsi bahwa banyak masyarakat kita mengira bahwa mereka aslinya berasal dari Bangladesh. Itu salah. Asal etnis Rohingya adalah Myanmar, tepatnya di Rakhine, di sekitar Gunung Arakan. Saya telah menulis secara mendetail tentang sejarah Rohingya di artikel sebelum ini: Rohingya: Tragedi, Demonisasi, dan Solusi. Silakan baca, ya.

Bangladesh merupakan negara yang paling banyak menampung pengungsi Rohingya. Lokasi kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh terdapat di Cox's Bazar yang menampung sekitar 900an ribu pengungsi. Kondisi kamp ini sangat kumuh, sanitasi buruk, dan rawan longsor.

Kondisi Cox's Bazar (foto: Al-Jazeera)

Selain Cox's Bazar, UNHCR juga dengan bekerjasama dengan pemerintah Bangladesh membangun sekitar 1000 rumah di Pulau Bhazan Car yang terpencil. Sekilas, rumah ini tampak bagus. Tetapi, ternyata dari 1000 rumah ini, 100.000 pengungsi tinggal berjejalan, sehingga menurut BBC, kamp ini lebih mirip penjara atau semacam kamp konsentrasi dengan akses sangat eksklusif, alias tidak bisa keluar masuk dengan bebas.

Kondisi kamp di Pulau Bhazan Car, terdiri dari 1000 rumah untuk ditempati 100 ribu pengungsi (foto: BBC)

Karena kondisi inilah, maka orang-orang Rohingya merasa putus asa. Dan ketika ada sindikat perdagangan orang yang memanfaatkan hal ini, mereka rela menjual apapun yang mereka miliki untuk melarikan diri demi penghidupan yang lebih baik.

"Tampung aja di rumah elu!"

Kalimat "tampung saja di rumah elu", tampaknya telah menjadi semacam template untuk menyerang siapapun masyarakat Indonesia yang mencoba membela etnis Rohingya. Saya sendiri juga tak luput dari serangan ini, ketika mencoba memposting untuk meluruskan persepsi masyarakat tentang Rohingya.

Pernyataan ini merupakan reaksi spontanitas yang emosional, mungkin karena kekesalan mereka terhadap pengungsi Rohingya yang dianggap menyebalkan. Meski sejauh ini saya belum berhasil diyakinkan, seberapa menyebalkankah 1500an pengungsi Rohingya di Indonesia, apakah benar-benar telah memberatkan warga, mengingat selama ini mereka dikelola oleh UNHCR dan NGO lainnya. Bahkan, APBN untuk mengelola mereka tampaknya masih sangat sedikit. 

Faktanya, meskipun hingga saat ini, pemerintah Indonesia memang belum meratifikasi konvensi pengungsi 1951 dan protocol 1967, tetapi masalah pengungsi tidak lantas sama sekali tidak ada aturan yang mengurusi. Indonesia memiliki memiliki Peraturan Presiden no 125 tahun 2016 yang mengurusi soal pengungsi dari luar negeri. Jadi, mengapa mendadak ada wacana: "tampung saja di rumah elu?" Rakyat sipil secara individual tidak perlu menampung, cukup membayar pajak saja agar elemen-elemen yang ditunjuk dalam Perpres tersebut bekerja.



Nanti Mereka Akan Jadi Israel Untuk Indonesia?
Ini narasi yang menurut saya paling tidak masuk akal. Masuknya etnis Rohingya ke Indonesia, ternyata ditakutkan oleh sebagian Netizen akan menjadi Israel yang dahulu juga datang ke Palestina dengan kondisi compang-camping dan kurus kering, kemudian ditolong bangsa Palestina, namun kemudian berbalik mencaplok tanah Palestina. Bahkan, sebagian Netizen dengan lantang menuduh bahwa Rohingya adalah Zionis Asia Tenggara.

Menurut saya, pernyataan tersebut berlebihan. Ada beberapa alasan yang ingin saya kemukakan.

Pertama, kedatangan bangsa Yahudi ke Palestina saat itu merupakan bagian dari agenda pembentukan negara Yahudi Israel yang dirancang oleh gerakan Zionisme dan disponsori oleh Inggris. Sebelum peristiwa genosida di Jerman, gerakan Zionisme sudah mendapatkan dukungan dari Inggris untuk memasuki Palestina sebagai "national home" dengan Deklarasi Balfour di tahun 1917. Silakan baca di artikel saya: Sejarah Kemerdekaan Indonesia dengan Palestina, Apa Persamaan dan Perbedaannya?  Semua orang Yahudi saat itu diminta untuk pindah ke Palestina, sehingga gelombang imigrasi memang telah terjadi sejak tahun 1917, dan puncaknya pada Perang Dunia II.

Sementara, kedatangan bangsa Rohingya terpencar ke seluruh dunia (lihat peta persebaran pengungsi etnis Rohingya di atas). Sejak 1970an, etnis Rohingya menyebar ke berbagai negara, dan belum terdengar adanya gerakan untuk mendirikan negara sendiri, baik di Arab Saudi, Pakistan, Bangladesh, maupun Thailand. Di Malaysia sempat berkembang mereka minta tanah. Ternyata setelah diselusuri, video yang viral itu merupakan video demo etnis Rohingya di Malaysia yang menetang kekerasan di Myanmar pada tahun 2017. Video asli bisa disaksikan di sini: Rohingya migrants in Malaysia protest violence in Myanmar, merupakan video dari AP Archive yang tayang pada 30 Agustus 2017. Oleh seorang influencer, video itu diedit dan diframing bahwa Rohingya minta tanah di Malaysia.

Kedua, kedatangan bangsa Yahudi ke Palestina, membawa ideologi yang berbeda dengan Palestina, yakni agama Yahudi. Dan berdasarkan ajaran yang mereka yakini, yakni mitos "tanah yang dijanjikan", mereka meyakini bahwa Palestina adalah hak mereka, mandat yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sementara Rohingya tidak ada ideologi berbeda yang mereka usung. Kepergian etnis Rohingya dari Provinsi Rakhine adalah melulu karena ingin mendapatkan keselamatan. Bahkan, selain Thailand dan India, negara yang banyak menampung mereka adalah negara-negara Muslim yang notabene satu ideologi dengan mereka.

Ketiga, Israel memiliki beking negara-negara kuat, seperti Amerika Serikat, Kanada dan Uni Eropa. Mereka memiliki kepentingan strategis atas keberadaan Israel di Timur Tengah, sehingga akan menyokong dengan dana, senjata, dan berbagai bantuan besar agar Israel tumbuh menjadi negara yang kuat. Sementara etnis Rohingya adalah orang-orang yang lemah, tak memiliki bekingan mana pun.

Keempat, justru Rohingya dan Palestina memiliki kesamaan. Mereka sama-sama korban persekusi dan genosida. Rohingya oleh Junta Militer Myanmar, Palestina oleh Israel. Mereka sama-sama etnis yang ingin dimusnahkan oleh rezim yang berkuasa. Keduanya harus dibela, tanpa membeda-bedakan, karena dalam kemanusiaan, semua manusia, mau kaya atau miskin, cantik-ganteng atau jelek, kulit putih atau hitam, semua sama di mata Allah SWT.

Jadi, mari berprasangka baik terhadap saudara-saudara kita etnis Rohingya. Etnis Rohingya adalah juga manusia, bukan kera. Mari menolong mereka tanpa harus abai dengan kondisi bangsa kita sendiri.

Posting Komentar untuk "Benarkah Rohingya Akan Jadi Israel Untuk Indonesia?"