Widget HTML Atas

Mengenang Kejayaan Fiksi Islami, Akankah Bangkit Kembali? Bag#2

Fiksi Islami periode awal (1990-an hingga awal 2000-an)

Pada artikel Mengenang Kejayaan Fiksi Islami yang saya tuliskan di bagian pertama, saya sebutkan bahwa awal tahun 2000-an merupakan puncak kejayaan fiksi islami. Meski saya sebut awal tahun 2000-an, buku-buku bergenre fiksi islami sebenarnya sudah dimulai ditulis dan diterbitkan akhir tahun 90-an. Penerbit yang menjadi pionir, adalah Asy-Syaamil dan Pustaka Annida (majalah Annida). Lalu diikuti penerbit-penerbit lain seperti Mizan, Era Intermedia, Gema Insani dan FBA Press. Ada banyak buku yang cukup terkenal saat itu. Sebagian besar saya baca, dan lepas dari segala plus minusnya, saya merasa sangat terkesan.

Nah, soal kesan ini, menarik jika dikaji secara lebih mendalam. Ternyata, bukan hanya saya saja yang secara intens mengalami pergolakan ideologi setelah menyantap fiksi-fiksi Islami yang beredar pada tahun-tahun itu. Saya coba copas komentar Raudhah Annisa, seorang pembaca setia fiksi Islami ketika saya membagikan link tentang artikel Mengenang Kejayaan Fiksi Islami bagian pertama di akun media sosial saya, nih.

Ya Allah kangen mba.. šŸ˜¢ saya sendiri kayaknya mulai kenal penulis fiksi islami jaman SMP tahun 2000, dimulai dr majalah Annida, dlu sekolah umum ya taunya majalah gaul, pas ditawari majalah annida (yg covernya bunga2) sama tante akhwat sebelah rumah selanjut2nya saya jd memburu fiksi2 islam, tertarik pingin masuk pesantren, berhijab hingga jaman kuliah ketemu lingkungan tarbiyah.. masyaAllah memang berpengaruh sekali dalam perjalanan ruhani sya mba, fiksi islami bangkit lagi dong, ga sedikit yang berhijrah karena fiksi islami...

Ada banyak buku yang beredar pada saat itu, ratusan, bahkan mungkin ribuan judul. Tetapi, saya akan mencoba membahas beberapa saja yang menurut saya paling berkesan dan terbilang cukup 'legendaris'.

Ketika Mas Gagah Pergi

Saat masih kuliah, saya memiliki kakak-kakak kelas yang sangat baik, di antaranya Mbak Rahma dan Mbak Niken. Mereka inilah yang berjasa besar memperkenalkan saya dengan fiksi Islami. Mbak Rahma dan Mbak Niken memiliki koleksi majalah Annida yang sangat lengkap. Nah, Mbak Rahma ini punya basik seni teater. Suatu hari, Rohani Islam (Rohis) kampus kami mengadakan acara pentas seni Islami. Mbak Rahma membacakan sebuah cerpen berjudul: Ketika Mas Gagah Pergi. Entah karena penghayatan Mbak Rahma yang sangat kuat, atau karyanya yang bagus, atau dua-duanya, hampir semua peserta tenggelam dalam keharuan.

Sumber: sastrahelvy.com

Sebagaimana dilansir dari sastrahelvy.com (5/9/2014), cerpen Ketika Mas Gagah Pergi ditulis oleh Mbak Helvy Tiana Rosa sebagai tugas mata kuliah sastra populer saat beliau masih kuliah di Fakultas Sastra UI, tahun 1992. Dimuat pertama kali di Majalah Annida pada September 1993. Wah, tahun itu, saya masih kelas 3 SMP hehe. Lantas, KMGP pertama kali diterbitkan sebagai buku (bersama cerpen-cerpen mbak Helvy lainnya) oleh Pustaka Annida (penerbit milik majalah Annida) pada tahun 1997. Pada awal penerbitan sebagai buku, langsung terjual 10.000 eksemplar dari seminggu. Dahsyat, kan?

Nah, buku KMGP edisi perdana inilah yang diperkenalkan oleh Mbak Niken dan Mbak Rahma, kakak kelas saya di F.MIPA Undip saat itu. Tahu bahwa saya suka menulis, beliau berdua sangat mendukung saya untuk menggeluti fiksi Islami. 

Asy-Syaamil menerbitkan ulang antologi cerpen KMGP tersebut pada tahun 2000. Ya, seperti saya sebutkan di bagian pertama tulisan ini, Pustaka Annida memang akhirnya lebih fokus dengan penerbitan majalah Annida, tidak terlalu intens menggeluti dunia perbukuan.

Hingga saat ini, KMGP telah dicetak ulang 38 kali oleh beberapa penerbit yang berbeda-beda. Jika sekali cetak bisa 3000 - 10.000 eksemplar, bisa dihitung sendiri kan, perkiraan berapa eksemplar buku ini terjual di pasar?

Bahkan, cerpen KMGP pun telah diangkat di film secara bersambung, KMGP 1 dan KMGP 2, yang mengangkat nama Hamas Syahid sebagai pelaku utamanya. Uniknya, dalam edisi film, cerpen KMGP dipadukan dengan cerpen "Lelaki Tak Bernama" yang bercerita tentang si mas baju kotak-kotak, dalam film tersebut diperankan oleh Masaji Wijanarko. Bisa dikatakan, KMGP inilah karya Mbak Helvy paling legendaris. 


Serial Pingkan, Sehangat Mentari Musim Semi

Serial Pingkan terbitan Asy-Syaamil

Tak kalah legendaris dari KMGP adalah Serial Pingkan. Serial ini ditulis oleh Maimon Herawati, yang saat itu menggunakan nama pena Muthmainnah. Sama dengan KMGP, versi majalah, kisah ini juga dimuat di Annida. Bedanya, Serial Pingkan dimuat secara bersambung pada tahun 1997-1998. Saya termasuk yang bersyukur, bisa mengikuti serial ini di majalah Annida, karena saat itu sudah menjadi mahasiswa di F.MIPA Undip (saya masuk Undip tahun 1997). Toko buku dekat indekos saya, berjualan Annida. Selain itu, saya juga bisa nebeng koleksi senior-senior saya yang superbaik, seperti yang saya kisahkan di atas.

Serial Pingkan berkisah tentang Pingkan Rahma, gadis asal Minang yang mendapat kuliah di Australia, tepatnya Perth. Pingkan yang tomboy, cerdas, friendly dan sangat empati dengan orang lain, dengan cepat mendapatkan banyak sahabat di Perth. Hidayah demi hidayah dia dapatkan, membuat akhirnya dia menjadi sosok yang inspiratif bagi orang-orang di sekitarnya.

Tahun 1999, Asy-Syaamil menerbitkan Serial Pingkan dalam format buku. Bisa dikatakan, buku ini merupakan salah satu dari beberapa proyek perdana penerbit Asy-Syaami. Saya tidak punya angka pasti tentang keterjualan buku ini. Tetapi, karena saat itu buku ini sangat ngetren, saya perkirakan buku ini juga tembus penjualan puluhan ribu eksemplar. Uda Halfino Berry, dari pihak Asy-Syaamil, pernah memberikan kisaran angka di atas 50 ribu eksemplar, saat itu.

Cover Serial Pingkan edisi republish, kerjasama Pingkan Publishing dan Indiva Media Kreasi /Majalah Gizone


Tahun 2010, Teh Maimon Herawati yang baru pulang dari Inggris (selama 8 tahun beliau tinggal di New Castle), meminta bantuan saya dan tim Indiva Media Kreasi untuk menerbitkan ulang buku tersebut. Bagaimana keseruan memformat ulang buku legendaris ini? Silakan baca: Pingkan Rahma, Supergirl dari Perth

Hingga Batu Bicara

Selain KMGP, karya Mbak Helvy yang legendaris tentunya Hingga Batu Bicara (HBB). Hanya saja, dalam antologi cerpen khusus Palestina ini, Mbak Helvy tidak sendirian. Ada 2 penulis lain, yang juga merupakan generasi awal FLP yang menggaungkan fiksi islami, yaitu Izzatul Jannah dan Maimon Herawati (Muthmainnah). 

Antologi cerpen HBB terbit pertama kali tahun 1999, dan merupakan salah satu dari proyek perdana penerbit Asy-Syaamil. Ini tampilan cover perdananya:

Edisi terbitan 1999

Tahun 2000, oleh penerbit Asy-Syaamil, covernya diganti dengan cover yang lebih dikenal saat ini, berwarna biru dengan gambar masjidil Aqsha. Covernya terlihat lebih kalem, dan cocok dengan isi dari buku tersebut yang merupakan kumpulan cerpen Palestina.

Cover edisi 2000

Keberpihakan FLP terhadap Palestina memang sudah berlangsung sejak lama, bahkan bisa dikatakan sejak awal berdirinya. Selain HBB, masih ada beberapa karya anggota FLP, dalam hal ini tentu mengusung fiksi islami, yang menjadikan isu Palestina sebagai tema sekaligus setting utama. 

Maka, sebagai orang yang diamanahi oleh Munas 2017 di Bandung sebagai ketua umum Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena, saya akan melanjutkan tradisi ini. Pada 29 November 2020 kemarin, bertepatan dengan Silaturahim Nasional FLP 2020, saya telah melantik Komisi FLP untuk Palestina, yang diketuai Mbak Sinta Yudisia, beranggotakan Mbak Rahmadiyanti Rusdi, Nafi'ah Al Ma'rab, Mahathir Ali dan Nur Afilin. Saya akan menuliskan secara khusus hal ini di tulisan lain, doakan semoga bisa terealisir, ya...

Fiksi Islami Legendaris Lainnya

Masih ada beberapa fiksi islami yang legendaris dan berkesan, khususnya untuk saya, yang terbit di awal-awal tahun 2000-an. Misalnya, Cahaya di Atas Cahaya, kumpulan cerpen dari Mbak Izzatul Jannah (Setiawati Intan Savitri, ketua umum BPP FLP 2009-2014). Buku ini juga punya kenangan khusus, karena saat peluncurannya di Taman Budaya Raden Shaleh, Semarang, menjadi saat pertama kali saya bertemu dengan orang-orang yang hanya saya baca ceritanya di majalah. Ada Mbak Izzatul Jannah, Mbak Muttaqiwiati (saat itu juga meluncurkan bukunya, Serial Aida--Telaga yang Tak Pernah Kering), juga Bang Halfino Berry sebagai salah seorang yang sangat berperan di penerbit Asy-Syaamil saat itu.

Novel Pesantren Impian karya Mbak Asma Nadia, juga menurut saya merupakan karya yang legendaris, selain Serial Aisyah Putri.

Wah... harus hela napas panjang untuk menuliskan satu demi satu kenangan yang berada di otak saya. Baik, saya akhirnya dulu sementara ya... bersambung di tulisan selanjutnya. Doakan bisa diberikan kekuatan untuk menyelesaikannya.

Tidak ada komentar untuk "Mengenang Kejayaan Fiksi Islami, Akankah Bangkit Kembali? Bag#2"